ICMI Kalsel Sebut Pernikahan Beda Agama Haram.

  • Whatsapp
Menyoroti peristiwa pernikahan beda agama di Banjarmasin akhir tahun 2019

Topwarta.com, Banjarmasin–Menyoroti peristiwa pernikahan beda agama di Banjarmasin akhir tahun 2019 lalu yang ramai diperbincangkan masyarakat, Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Korwil Kalsel turut angkat bicara.

Pengurus ICMI Kalsel, Prof. Dr. H. Fahmi Al Amruzi, menyebutkan pernikahan beda agama tidak menyangkut masalah hukum tetapi persoalan dasar dalam akidah Islam.
“Nikah tidak didasari oleh hukum, kalau akidah nya hanya satu maka tidak boleh. Itu sudah ada kesepakatan para majelis agama se-Indonesia mengatakan masing masing menghormati nikah sesuai dengan agama nya masing masing,”ucapnya, kepada Topwarta.com, Rabu (12/2/2020).

Fahmi, menjelaskan bahwasanya dalam ajaran Islam ada dua pandangan agama, yakni pandangan Agama Samawi dan Agama Budaya. Samawi ialah yang bisa memberikan toleransi sedangkan Agama Budaya tetap tegas mengatakan musyrik ataupun haram.

“Di zaman para sahabat, Umar Bin Khattab saja memperhatikan dan menjaga, kalau dibiarkan ini berbahaya kebelakangnya. Tidak ada pernikahan beda agama meskipun dia ahli kitab,”ucap Prof. Fahmi yang juga Guru Besar Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Banjarmasin.

Menyoroti peristiwa pernikahan beda agama di Banjarmasin akhir tahun 2019

Senada dengan Prof. Fahmi, Sektretaris ICMI Kalsel Taufik Arbain, menilai pernikahan beda agama seharusnya tidak terjadi di Kalsel, mengingat Kalsel sebagai masyarakat yang memiliki nilai religius yang tinggi.

“Ini kan menjadi tanggung jawab kami yang tergabung di ICMI, sistem soal religius ini perlu kita jaga, dan ICMI bertanggung jawab juga untuk menjaga sistem sosial religius sehingga kita berharap tidak ada pihak pihak tertentu semena-mena untuk merusak harmoni antar kehidupan sehingga pernikahan beda agama ini tidak terjadi di Kalsel dengan berkaca pada hukum negara,”ucapnya.

Sementara, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kertak Hanyar Kemenag Kabupaten Banjar, Ahmad Saubari menambahkan, kegiatan diskusi yang dilaksanakan di FISIP ULM Banjarmasin ini bertujuan sebagai pembinaan dan mencerdaskan masyarakat agar tidak terpropoganda.

Baca Juga   Mayat di Kolong Rumah, Ternyata Akibat Kekurangan Oksigen

“ICMI mencoba untuk mencerdaskan dimana masyarakat Kalsel supaya hidup dalam rukun damai dan tenang kehidupannya,”terangnya.

Sebelumnya, masyarakat dihebohkan dengan adanya pernikahan beda agama antara pengantin pria, berinisial RY (30) yang beragama Islam, asal Kabupaten Kotabaru, dengan mempelai wanitanya, DA (25) beragama Kristen Protestan asal Kapuas.

Prosesi pernikahan dilangsungkan di Hotel Tree Park Banjarmasin, pada 15 Desember 2019. Keduanya dianggap telah sah menjadi suami istri oleh penghulu asal Jakarta bernama Nurcholish, yang disebut telah memfasilitasi pernikahan itu.

Meskipun sah menurut Nurcholish, namun pernikahan itu dinilai tidak sah lantaran tidak tercatat di KUA Kabupaten Banjar.

“Mereka yang terlibat nikah beda agama ini, menjawab mereka melakukan itu karena ketidaktahuan mereka. Akhirnya terjadilah, seandainya mereka mempunyai pemahaman yang mendalam tentu tidak terjadi. Jadi apa yang dilakukan ICMI memberikan wawasan yang saya kira mencerdaskan masyarakat,”jelas Ahmad.

Reporter : Aya
Editor : Akbar Laksana

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *